Oleh: emte| Disarikan dari Kajian Subuh Masjid Agung Al Azhar (Sabtu, 3 Oktober 2026) | Pembicara: dr. Zainal Abidin
Pernahkah kita membayangkan, jika kita akan melakukan perjalanan jauh yang tidak bisa kembali selamanya, berapa banyak koper yang akan kita bawa? Mungkin ada yang membawa sampai 23 koper. Namun sayang, perjalanan menuju alam kubur tidak mengizinkan kita membawa satu pun harta dunia. Bahkan, 3 hari di dalam kubur, jasad kita sudah hancur. Siapa yang mau selfie di sana?
Kematian tidak mengenal usia, tidak mengenal kesehatan, dan tidak memberi aba-aba. Banyak orang sehat yang tiba-tiba meninggal, dan banyak orang sakit yang menanti ajal bertahun-tahun. Malaikat maut tidak perlu menawar-nawar waktu dengan kita. Oleh karena itu, persiapan menghadapi kematian harus seperti pasukan yang hebat: standby kapan saja, baik itu besok maupun 10 tahun lagi.
Lantas, bagaimana seharusnya kita menyikapi tambahan usia yang Allah berikan? Apakah hanya untuk ditangisi karena masa muda telah berlalu? Tidak. Usiamu adalah modal akhiratmu.
1. Fondasi Utama: Surah Al-Asr
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa seandainya manusia merenungi Surah Al-Asr, niscaya itu sudah cukup sebagai petunjuk bagi mereka. Allah ﷻ bersumpah dengan masa:
وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ﴿٣﴾
"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran."(QS. Al-Asr [103]: 1-3)
Usia adalah modal. Jangan sampai kita menua hanya secara fisik, namun miskin secara spiritual.
2. Evaluasi Diri: Bekal Menuju Hunian Kekal
Hunian manusia ada dua: hunian di atas bumi (dunia) yang terbatas, dan hunian di bawah bumi (kubur & akhirat) yang abadi. Memperindah hunian di dunia boleh saja, namun memperbaiki hunian di akhirat jauh lebih hakiki.
Allah ﷻ mengingatkan kita untuk selalu melakukan evaluasi diri:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan."(QS. Al-Hasyr [59]: 18)
3. Memaknai Zuhud dan Keseimbangan Dunia-Akhirat
Banyak yang salah kaprah mengira zuhud harus miskin, terlunta-lunta, dan menolak dunia. Padahal, 10 sahabat Nabi yang dijamin masuk surga (seperti Abu Bakar dan Umar) kebanyakan adalah orang kaya dan dermawan. Tidak ada sahabat yang malas atau peminta-minta.
Zuhud yang sejati adalah menerima apa adanya pemberian Allah, yang penting halal. 100 miliar yang halal jauh lebih baik daripada 100 juta yang haram. Islam tidak melarang kita kaya, yang dilarang adalah membuat kerusakan di muka bumi dan lupa diri.
Rumus keseimbangan ini telah Allah ajarkan:
وَٱبۡتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلۡأَخِرَةَۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنۡيَا
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi..."(QS. Al-Qasas [28]: 77)
4. Delapan Langkah Memaksimalkan Usia
Bagaimana agar usia kita berkah dan berharga? Berikut 8 langkah praktisnya:
1. Keimanan yang membuahkan amal saleh. (Aktif di masjid, peduli yatim/dhuafa, mendidik anak).
2. Fokus pada aktivitas kebaikan. Mengejar apa yang paling bermanfaat dan mohon pertolongan Allah.
3. Berhijrah dalam kebaikan. Meninggalkan keburukan menuju kebaikan sekecil apa pun.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
"Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah."(HR. Bukhari)
4. Jangan silau dengan dunia. Apapun kesenangan dunia, ia akan sirna.
5. Selalu berada di atas jalan kebenaran.
6. Berusaha menjadi lebih baik. Mendekati kebaikan, mendekati yang terbaik.
7. Istiqamah dalam kebaikan. Walau sedikit, karena tidak ada yang masuk surga semata-mata karena amal, melainkan karena rahmat Allah.
إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَـٰمُوا۟...
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: 'Tuhan kami ialah Allah' kemudian mereka istiqamah..."(QS. Fussilat [41]: 30)
8. Jadilah insan yang bermanfaat.
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."(HR. Ath-Thabrani)
5. Kunci Kebahagiaan dan Kesederhanaan
Mengapa banyak orang yang memiliki segalanya namun merasa tersiksa? Karena mereka diperbudak oleh keinginan, bukan kebutuhan.
Rasulullah ﷺ memberikan rumus kebahagiaan yang sangat sederhana:
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
"Barangsiapa di antara kalian yang pagi harinya berada dalam keadaan aman di tempat tinggalnya, sehat badannya, dan memiliki bahan makanan untuk hari itu, maka seolah-olah ia telah menguasai seluruh isi dunia."(HR. Tirmidzi)
Kunci utamanya adalah kesederhanaan: mendahulukan pola daripada gaya, dan mementingkan kebutuhan daripada keinginan. Berhentilah membanding-bandingkan hidup kita dengan "tanah orang lain", karena kita tidak tahu beban dan ujian apa yang mereka pikul.
6. Manajemen Waktu dan Amalan Ringan Pembawa Gunung Pahala
Di sisa usia ini, mari kita manajemen waktu dengan baik.
• Tidur lebih awal agar bisa bangun di sepertiga malam terakhir untuk Tahajud.
• Baca Al-Qur'an minimal 1 lembar per rakaat shalat sunnah. Dengan 10 rakaat, kita dapat 10 lembar. Sebulan kita bisa khatam 1 juz.
• Perbanyak Dzikir 7 (Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahu Akbar, Astaghfirullah, La haula wala quwwata illa billah, dan Hasbunallah wanikmal wakil saat merasa terancam/takut). Dzikir adalah amalan ringan namun pahalanya bisa memikul gunung.
───
🌟 Catatan Emas & Renungan Penutup
Sebagai penutup, mari kita tanamkan dalam hati bahwa umur itu tidak bisa balik. Umur itu ada dua: dunia meninggalkan kita, atau kita meninggalkan dunia.
• Pesan Moral: Janganlah menjadi pendengar yang tidak mendengarkan. Orang yang cerdik membiasakan diri mendengar yang baik, memperhatikan sepenuh hati, dan fokus menyimak untuk kemudian diamalkan.
• Tanda Kewarasan: Mampu mengendalikan diri, membedakan mana yang haq dan batil, serta memilah mana yang bermanfaat dan mudharat.
• Rukun Kehidupan yang Harus Dijaga: Spiritual yang kuat, kesehatan lahir batin, profesi yang bermanfaat, keluarga sakinah, kepribadian berintegritas, dan kekayaan yang halal lagi thayyib.
• Dinamika Diri: Kita selalu berada di antara energi positif dan negatif. Setan sebagai penggoda, nafsu sebagai pendorong, akal sebagai pengekang, dan syariat sebagai pengendali.
Semoga Allah ﷻ menguatkan iman kita, memberkahi sisa usia kita, dan mengumpulkan kita kelak di surga-Nya bersama keluarga dan orang-orang tercinta. Aamiin ya Rabbal 'Alamin.
───
Semoga tulisan ini bermanfaat silahkan dishare
