Dai Juga Manusia: Antara Keteladanan dan Ketidaksempurnaan
Oleh: M. Ilyas Marwal
Sebuah refleksi bertajuk “Dilema Ustadz: Suara Hati Seorang Da'i” menggambarkan kegelisahan yang sangat manusiawi. Seorang dai mengajak orang lain kepada kebaikan, tetapi menyadari dirinya belum selalu mampu melakukan semua yang disampaikan. Ia berbicara tentang keikhlasan, tetapi masih takut menikmati pujian. Ia mengingatkan manusia agar tidak diperbudak dunia, sementara dirinya harus menafkahi keluarga. Ia dituntut menjadi teladan, padahal ia tetap manusia yang dapat salah dan tergelincir.
Kegelisahan seperti ini justru penting. Sebab persoalan terbesar dalam dakwah bukan hanya bagaimana membuat orang lain berubah, melainkan bagaimana dakwah terus mengubah orang yang menyampaikannya.
Seorang dai berada pada posisi yang tidak sederhana: antara kemuliaan risalah dan keterbatasan manusia.
Al-Qur'an mengingatkan:
“Apakah kamu menyuruh manusia berbuat kebajikan, sementara kamu melupakan dirimu sendiri?” (QS al-Baqarah: 44).
Peringatan yang lebih keras terdapat dalam QS al-Shaff ayat 2–3:
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”
Ayat-ayat ini semestinya membuat setiap orang yang berbicara atas nama agama melakukan muhasabah. Namun, jangan sampai ayat tersebut melahirkan kesimpulan bahwa seseorang harus menjadi manusia sempurna sebelum boleh menyampaikan kebaikan.
Jika kesempurnaan pribadi menjadi syarat dakwah, siapa yang masih layak berdakwah?
Dua Kewajiban yang Harus Berjalan Bersama
Dalam khazanah fikih, terdapat prinsip penting: kewajiban melakukan kebaikan dan kewajiban mengajak kepada kebaikan tidak semestinya dipertentangkan.
Seorang Muslim yang belum sempurna mengamalkan suatu kebaikan tetap berkewajiban memperbaiki dirinya. Namun kekurangannya tidak serta-merta menjadi alasan untuk berhenti mengingatkan orang lain.
Dengan bahasa sederhana: Ia mengajak orang lain kepada kebaikan, sambil terus berjihad memperbaiki dirinya.
Di sinilah keseimbangan diperlukan. Jangan menjadikan kekurangan pribadi sebagai alasan meninggalkan dakwah. Tetapi jangan pula menjadikan aktivitas dakwah sebagai alasan untuk merasa diri telah baik.
لَا تَتْرُك الدَّعْوَةَ لِتَقْصِيرِكَ، وَلَا تَرْضَ بِتَقْصِيرِكَ لِأَنَّكَ دَاعِيَةٌ
“Jangan tinggalkan dakwah karena kekuranganmu; tetapi jangan pula berdamai dengan kekuranganmu hanya karena engkau seorang dai.”
Ketika Pujian Menjadi Ujian
Ada dimensi yang lebih halus dalam kehidupan seorang dai: popularitas.
Pada masa media sosial, ceramah tidak lagi berhenti di mimbar. Potongan ceramah dapat ditonton jutaan orang. Jumlah pengikut, likes, views, undangan, dan popularitas perlahan dapat menjadi ukuran keberhasilan.
Di sinilah ujian keikhlasan semakin kompleks.
Dahulu seorang dai mungkin hanya menghadapi penolakan masyarakat. Kini ia juga harus menghadapi kenikmatan penerimaan masyarakat.
Dan terkadang pujian lebih berbahaya daripada cacian. Karena Cacian dapat membuat seseorang menangis dan kembali kepada Allah. Sebaliknya, pujian dapat membuat seseorang perlahan merasa bahwa keberhasilan dakwah berasal dari kehebatan dirinya.
Karena itu, dai membutuhkan ruang sunyi. Ia boleh memiliki jutaan pengikut, tetapi harus tetap mampu menangis ketika sendirian di hadapan Allah. Ia boleh fasih menasihati umat, tetapi jangan kehilangan kemampuan menasihati dirinya sendiri.
Dakwah yang kehilangan muhasabah mudah berubah dari khidmah menjadi panggung.
Amplop dan Kehormatan Dakwah
Kegelisahan lain adalah persoalan honor dakwah. Menerima imbalan yang halal atas waktu, tenaga, perjalanan, dan pengajaran agama tidak otomatis mengurangi kemuliaan seorang dai. Ia juga memiliki keluarga, anak-anak yang harus dididik, dan kebutuhan kehidupan yang harus dipenuhi.
Dalam perspektif maqāṣid al-syarī‘ah, pemenuhan kebutuhan hidup yang wajar bahkan merupakan bagian dari penjagaan kehidupan dan keluarga. Karena itu, persoalannya tidak sesederhana “menerima amplop berarti duniawi” dan “menolak amplop berarti ikhlas”.
Keikhlasan adalah persoalan hati.
Ada perbedaan mendasar :“dakwah yang kemudian didatangi rezeki”, dan “dakwah yang tidak bergerak kecuali karena uang”.
Seseorang dapat menerima honor tetapi tetap ikhlas. Sebaliknya, seseorang dapat menolak uang, tetapi diam-diam mengharapkan popularitas, pengaruh, kedudukan, bahkan kekuasaan.
Maka yang harus dijaga bukan hanya tangan dari harta yang haram, tetapi juga hati dari diperbudak dunia.
Dai Bukan Malaikat
Pada sisi lain, masyarakat juga perlu belajar bersikap adil terhadap para ulama, kiai, ustadz, dan dai.
Mereka memang harus memiliki standar moral lebih tinggi karena menjadi rujukan masyarakat. Namun keteladanan tidak identik dengan kemaksuman.
Dai bukan malaikat.
Ia dapat lelah, salah mengambil keputusan, keliru berbicara, bahkan tergelincir. Yang menentukan integritasnya bukan apakah ia tidak pernah salah, melainkan bagaimana ia bersikap ketika menyadari kesalahannya.
Khazanah Islam mengenal istilah زَلَّةُ الْعَالِم—ketergelinciran seorang alim. Ia harus dikritik dan diluruskan, tetapi tidak otomatis menghapus seluruh ilmu, jasa, dan kebaikannya.
Sebaliknya, kesalahan juga tidak boleh dibenarkan hanya karena dilakukan tokoh yang kita cintai.
Di sinilah keadilan diperlukan. Jangan mengkultuskan dai ketika kita mencintainya, dan jangan menghapus seluruh kebaikannya ketika kita kecewa kepadanya.Keduanya sama-sama kehilangan proporsi.
Maqāṣid Dakwah
Pada akhirnya, tujuan dakwah bukanlah membesarkan nama seorang dai. Dakwah juga bukan industri popularitas, kompetisi jumlah pengikut, ataupun panggung untuk menunjukkan siapa yang paling saleh.
Maqāṣid dakwah adalah membawa manusia semakin mengenal Allah, memperbaiki akhlak, menegakkan kemaslahatan, dan menghadirkan rahmat agama dalam kehidupan.
Karena itu, ukuran keberhasilan dakwah tidak cukup dengan pertanyaan: berapa banyak orang yang mendengar ceramah kita?
Ada pertanyaan yang lebih mendasar: berapa banyak manusia yang menjadi lebih dekat kepada Allah karena dakwah kita?
Dan masih ada pertanyaan yang jauh lebih sunyi:
Apakah setelah bertahun-tahun berdakwah, kita sendiri semakin dekat kepada Allah?
Sebab boleh jadi seseorang berhasil mengubah ribuan orang, tetapi lupa mengubah dirinya sendiri.
Seorang dai sejatinya bukan manusia yang telah sampai lalu memanggil orang lain dari ujung perjalanan. Ia adalah musafir yang berjalan bersama umat menuju Allah.
الدَّاعِيَةُ لَيْسَ مَلَكًا، وَإِنَّمَا هُوَ إِنْسَانٌ يَدُلُّ النَّاسَ عَلَى اللَّهِ، وَهُوَ فِي الْوَقْتِ نَفْسِهِ يَسِيرُ مَعَهُمْ إِلَى اللَّهِ.
“Seorang dai bukanlah malaikat. Ia adalah manusia yang menunjukkan manusia kepada Allah, sementara pada saat yang sama ia pun berjalan bersama mereka menuju Allah.”
Maka seorang dai tidak perlu menunggu sempurna untuk berdakwah. Tetapi ia juga tidak boleh berhenti menyempurnakan dirinya karena merasa telah menjadi dai.
Teruslah menunjukkan jalan kepada manusia, tetapi jangan lupa: kita pun masih sedang menempuh jalan yang sama menuju Allah. والله أعلم .
