Pagi itu, Sabtu 1 Agustus 2026, di Ruang Utama Masjid Agung Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, ratusan jamaah yang baru usai menunaikan Shalat Shubuh berjamaah dihidangkan dengan sebuah "jamuan" ruhani yang mengguncang paradigma.
Dalam Kuliah Shubuh bertajuk "Menjemput Kesuksesan Anak, Meraih Keberkahan Ilmu", narasumber kita, Prof. Taufik Kasturi, S.Psi., M.Si., Ph.D., tidak hanya berbicara soal teori parenting. Beliau mengajak kita melakukan *Mental Time Travel*—menjelajahi waktu untuk merenungi masa lalu dan membayangkan masa depan: Ke mana arah langkah anak-anak kita kelak? Dan apakah mereka masih mengingat kita ketika kita telah terbaring kaku di alam kubur?
Berikut adalah renungan-renungan emas dari pagi itu yang sayang untuk dilewatkan.
Ujian Terberat dan Sudut Pandang Langit
Prof. Taufik membuka sesi dengan sebuah kisah nyata yang menguji nyali dan komitmen keimanan. Bayangkan, ada sepasang suami istri muda yang merantau ke Jepang. Mereka dikaruniai putra, namun sang anak meninggal dunia karena kanker darah di usia menjelang 4 tahun.
Belum pulih luka mereka, sang ibu hamil lagi. Anak kedua lahir, dan menjelang usia 4 tahun, ia menyusul kakaknya karena kanker otak. Beberapa bulan kemudian, anak ketiga lahir. Menjelang usia 4 tahun, kanker otak kembali merenggutnya. Hingga empat kali, putra-putri mereka pulang ke rahmatullah di "usia horor" tersebut.
Tentu, siapa yang tidak hancur? Namun, pasangan ini tidak putus asa. Mereka yakin, Allah punya rencana terbaik. Lahirlah anak kelima. Seluruh keluarga besar deg-degan menanti apakah "kutukan" usia 4 tahun akan terulang.
Alhamdulillah, usia anak kelima ini terus bertambah. 5 tahun, 6 tahun, hingga 9 tahun. Anak yang awalnya "harus jadi anak kelima" ini kini menjadi "anak pertama" yang paling bertahan, dan ia tumbuh menjadi Hafiz Quran 30 Juz.
Seorang wartawan pernah bertanya pada sang ibu, "Kasihan ya, Bu. Harusnya ramai 5 anak, ini tinggal sendiri. Bagaimana perasaan Ibu ditinggalkan 4 putra dan harus merawat yang terakhir?"
Jawaban ibu ini membuat wartawan ternganga:
"Alhamdulillah, saya tidak perlu menafkahi, melindungi, menjaga, dan mendidik 4 anak saya yang telah meninggal. Allah telah menempatkan mereka di tempat yang sangat mulia: SURGA. Sementara, saya masih diberi amanah untuk merawat, mendidik, dan menafkahi satu anak ini, yang belum tentu jaminan masuk surganya. Saya bersyukur, dari 5 anak saya, 4 di antaranya sudah pasti tempatnya di surga."
Masyaallah. Sebuah pandangan spiritual yang tajam. Orang lain mungkin melihat ini sebagai tragedi, namun ibu ini melihatnya sebagai kemuliaan dan tiket VIP ke surga.
Rujukan Dalil:
"Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: 'Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'un'. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka..."(QS. Al-Baqarah: 155-157)
Mental Time Travel: Membayangkan Masa Depan Anak
Dalam psikologi, ada istilah Mental Time Travel, yaitu kemampuan kognitif untuk menjelajah waktu yang telah lalu (muhasabah) dan membayangkan masa depan.
Prof. Taufik mengajak kita berimajinasi: 10 menit lagi nyawa kita dicabut. Apa yang sudah kita kerjakan? Dan yang lebih menohok, ke mana anak-anak kita akan dibawa?
Apakah setelah kita wafat, anak-anak kita akan sibuk dengan dunia mereka? Sibuk dengan pekerjaan, sibuk dengan keluarga masing-masing, hingga lupa mendoakan kita? Atau mereka akan menjadi *amal jariyah* yang terus mengalirkan pahala?
Rujukan Dalil:
"Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do'a anak yang sholeh. (HR. Muslim no. 1631)
Mendefinisikan Ulang Kata "Juara"
Kisah kedua yang tak kalah menyentak hati adalah tentang seorang ayah yang memiliki 3 anak.
Anak Pertama:Juara Olimpiade Dunia, kuliah dan bekerja di Amerika.
Anak Kedua:Juara Olimpiade Asia, kuliah dan bekerja di Jepang.
Anak Ketiga: Biasa saja. Bukan juara olimpiade, bahkan untuk naik kelas saja harus dibantu. Ia kuliah di dekat rumah dan tinggal bersama orang tuanya.
Saat bercerita pada tetangga, orang tua ini selalu membanggakan anak pertama dan kedua. Anak ketiga? Seakan tidak ada, karena tidak ada "prestasi" yang bisa dipamerkan.
Namun, ketika sang ayah berusia 70 tahun dan jatuh sakit, siapa yang datang merawat? Anak ketiga.
Ketika sang ibu wafat, siapa yang memandikan dan mengurus jenazah? Anak ketiga.
Anak pertama dan kedua? "Tunggu aku pulang bulan depan ya, Pak/Bu. Sibuk di luar negeri."
Saudaraku, mari kita redefinisi ulang kata "Juara"
Anak yang hebat bukanlah yang pialanya berjejer di lemari, melainkan anak yang hadir saat orang tuanya membutuhkan, anak yang mendengarkan nasihatnya, dan anak yang membasuh jenazah orang tuanya dengan air mata dan doa. Anak ketiga itulah Uwais Al-Qarni di zaman modern.
Rujukan Dalil
"Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua."(HR. Tirmidzi no. 1899)**
---
Blueprint Mendesain Anak Sholeh: 3 Lapisan Jiwa & 3 Metode
Lantas, bagaimana cara mendesain perilaku anak agar kelak mereka menjadi anak sholeh yang mendoakan kita? Prof. Taufik memaparkan bahwa manusia memiliki 4 Lapisan Pemikiran:
1. Sensing (Inderawi): Pemahaman fisik yang dangkal dan gampang hilang.
2. Reasoning (Logika): Punya alasan mengapa kita harus berbuat. (Contoh: Mengapa harus shalat? Mengapa tidak boleh membuang waktu?)
3. Empati: Kemampuan merasakan apa yang orang lain rasakan.
4. Spiritual (Makna): Lapisan tertinggi. Kemampuan memberi makna. (Contoh: Memahami rasa sepi orang tua saat anaknya hanya membalas chat dengan "centang biru" tanpa bertanya kabar).
Untuk mencapai lapisan spiritual ini, ada 3 Teori Perubahan Perilaku yang harus diterapkan orang tua:
1. Conditioning (Pembiasaan): Biasakan anak memakai jilbab/shalat meski mereka belum paham dalilnya. Biarkan kebiasaan itu mendarah daging.
2. Modeling (Keteladanan): Jadilah contoh. Jangan suruh anak baca Quran, tapi kita sendiri asyik *scrolling* media sosial. Tunjukkan bagaimana kita berbakti pada kakek-neneknya.
3. Insight (Pemahaman): Ajak mereka berdiskusi. "Nak, kalau Ayah/Ibu sudah tidak ada nanti, kamu mau bagaimana?" Latih empati dan imajinasi spiritual mereka.
adab yang tidak hanya didefinisikan sebagai sopan santun itu juga Bagaimana hubungan seorang hamba terhadap robnya Beliau mengatakan problem pendidikan itu karena terpisahnya antara akademik dan perilaku antara akademik dan ada kalau Imam Maliki mengatakan Imam Malik mengatakan beliau menyebutkan Saya belajar adab itu sampai 20 tahun 30 tahun baru belajar ilmu dunia itu di tahun pertama 2 tahun pertama itu mereka berada di lembaga baru tahun ketiga itu baru belajar ilmu umum sehingga belajar ekonomi belajar teman-teman di belajar apa Karena kan Tertinggal semuanya mungkin bisa baca kitab semuanya melihat seperti ini kata Alatas bahwasanya ada itu harus lebih dulu ditanam dan kurikulum itu diintegrasikan dengan adab
Integrasi Ilmu dan Agama:
Saat kita mengajar atau mendampingi anak belajar, jangan hanya berorientasi pada nilai Matematika atau Bahasa Indonesia. Buatlah soal cerita yang mengarah pada nilai spiritual. Hitung-hitungan angka dan contoh kalimat bisa diarahkan untuk membangun empati dan kepedulian pada sesama. Inilah integrasi Islam dan Sains!
Rujukan Dalil:
> *"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..."* **(QS. At-Tahrim: 6)**
---
### 🌅 Penutup: Menjemput Mereka di Pintu Surga
Kuliah Shubuh ini menyadarkan kita bahwa kesuksesan dunia (Olimpiade, gelar, harta) bisa jadi hanya "hiburan" sementara. Kesuksesan yang hakiki adalah ketika kita berhasil "menjemput" anak-anak kita untuk bersama-sama masuk ke dalam surga-Nya.
Mari kita perbaiki niat, perbaiki keteladanan, dan perbanyak doa. Karena pada akhirnya, di alam kubur yang gelap dan sempit itu, yang akan menjadi "cahaya" dan pembela kita bukanlah piala anak-anak kita, melainkan **suara tersedu mereka yang memohonkan ampunan untuk kita.**
*Allahumma ja'alna wa dzurriyyatina ahlil jannah.*
(Ya Allah, jadikanlah kami dan keturunan kami ahli surga).
***
**Referensi & Bacaan Lanjutan:**
* *Tafsir Ibnu Katsir* (Surah Al-Baqarah: 155-157 & Luqman: 13-17)
* *Hadits Arba'in Nawawi* (Hadits ke-29 tentang Pintu Rida Allah & Hadits ke-32 tentang Amal Jariyah)
* Kasturi, T. (2026). *Menjemput Kesuksesan Anak, Meraih Keberkahan Ilmu*. Kuliah Shubuh Masjid Agung Al Azhar, Jakarta Selatan.
* Zimbardo, P., & Boyd, J. (2008). *The Time Paradox* (Konsep *Mental Time Travel* dalam Psikologi Kognitif).
---
*Tags: #ParentingIslami #KuliahSubuhAlAzhar #MentalTimeTravel #AnakSholeh #UwaisAlQarni #ParentingSpiritual #RenunganHarian #ProfTaufikKasturi*
